Langkah Optimal terhadap SARS di Indonesia

SARS. K etika mendengar kata itu, pasti ada perasaan ngeri. Ya ,bagaimana tidak, SARS dulu pernah menjadi pandemic yang banyak dipermasalahkan berbagai Negara karena mempengaruhi perekonomian negara khususnya dibidang penerbangan, pariwisata dan tenaga kerja. Adanya negara/wilayah yang terjangkit SARS menyebabkan berkurangnya jumlah penerbangan dan jumlah penumpang dengan tujuan negara/wilayah tersebut. Sebagai contoh antara lain dampak terhadap airline yang dimuat di Majalah Bussines News tanggal 4 April 2003 yang memberitakan jumlah penumpang GIA dari Singapura turun hingga 20 %, biro perjalanan juga melaporkan penurunan penumpang antara 50 – 70 %.

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan Sindrom Pernapasan Akut Berat adalah sebuah penyakit mirip pneumonia dengan onset yang  sangat akut. Penyakit ini disebabkan oleh virus SARS yang tergolong corona virus. Sampai sekarang SARS belum ditemukan obatnya. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia.

Kasus SARS pertama kali ditemukan di propinsi Guangdong ( China ) pada bulan November 2002. Pada saat itu Tiongkok tidak langsung memberitahu WHO mengenai wabah tersebut. Kasus wabah tersebut baru terlaporkan ke WHO pada Februari 2003. Pada waktu itu gejala-gejala tersebut disebut sebagai Atypical Pneumonia atau Radang Patu Atipik. Informasi WHO ini menjadi dasar bagi DepKes untuk secara dini pada bulan Februari 2003 menginstruksikan kepada seluruh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP ) di Indonesia yang mengawasi 155 bandara, pelabuhan laut dan pos lintas batas darat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah penangkalan yang perlu.

Pada Maret 2003 ,WHO mulai mengumumkan adanya penyakit baru tersebut yang diberi nama SARS. Kemudian WHO juga mengumumkan ke seluruh dunia bahwa SARS merupakan ancaman global (global threat). Pertimbangan WHO menyatakan SARS sebagai ancaman global adalah SARS merupakan penyakit baru yang belum dikenal penyebabnya. SARS menyebar secara cepat melalui transportasi antar negara dan SARS terutama menyerang tenaga kesehatan di rumah sakit.

Wabah SARS telah mendorong berbagai pakar kesehatan di dunia untuk bekerja sama menemukan penyebab SARS dan memahami cara penularan SARS. Atas kerjasama para pakar dari 13 laboratorium di dunia maka tanggal 16 April 2003 dipastikan bahwa penyebab SARS adalah Virus Corona atau Coronavirus.

Gejala dan tanda fisik

Gejala yang muncul pertama kali seperti flu biasa, dan bisa mencakup demam, myalgia, lethargy, gejala gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala non-spesifik lainnya. Satu-satunya gejala yang sering dialami seluruh pasien adalah demam di atas 38 °C (100.4 °F). Pasien dapat merasakan sesak nafas apabila kondisinya sudah semakin parah. Tanda fisik tidak terlalu spesifik, bahkan kadang-kadang tidak ada. Beberapa pasien dapat mengalami tachypnea dan pada asukultasinya terdengar suara crakle. Dari pengamatan di sinar X dapat terlihat gambaran seperti pneumonia, yaitu konsolidasi yang hampir memenuhi kedua paru.

Cara Penularan

Penularan melalui kontak langsung berhadapan, baik karena berbicara, batuk atau bersin.

Penularan melalui udara, misalnya penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan, dalam satu gedung, tidak terjadi asal tidak kontak langsung berhadapan. Masa inkubasinya adalah 3-10 hari setelah paparan pertama terhadap virus.

Diagnosis

Diduga Kuat (Suspect Case) adalah seseorang setelah 1 Februari 2003, menderita sakit dengan 3 gejala berikut :

–          Demam tinggi (>38°C)

–          Satu atau lebih gangguan pernapasan, yaitu batuk,napas pendek, dan kesulitan bernapas

–          Satu atau lebih dari keadaan berikut :

• Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, mempunyai riwayat kontak erat dengan seseorang yang telah didiagnosa sebagai penderita SARS *).

• Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, melakukan perjalanan ke tempat yang dilaporkan adanya penderita SARS **).

*) Yang dianggap sebagai kontak erat adalah orang yang merawat, tinggal serumah atau berhubungan langsung dengan cairan saluran pernapasan atau jaringan tubuh seorang penderita SARS.

**) Yang dimaksud dengan tempat yang dilaporkan adanya penderita SARS adalah sesuai dengan ketatapan WHO sebagai affected area yang pada tanggal 1 April Canada (Toronto), Singapura, China (Propinsi Guangdong, Hong Kong Special Administrative Region of China, Shanxi, Taiwan) dan VietNam (Hanoi)

Diduga Sangat Kuat (Probable Case) adalah kasus suspek dengan gambaran foto thorax menunjukkan tanda-tanda pnemonia atau respiratory distress syndrome, atau

Seseorang yang meninggal karena penyakit saluran pernapasan yang tidak jelas penyebabnya , dan pada pemeriksaan autopsi ditemukan tanda patologis berupa “respiratory distress syndrome” yang tidak jelas penyebabnya.

Pasti SARS adalah seseorang yang menderita sakit dengan gejala demam tinggi dan ditemukannya bukti serologi atau virus penyebab.

Lalu dalam pencegahan terjadinya penyebaran SARS ini apa saja yang telah dilakukan oleh Depkes?

Departemen Kesehatan secara dini dan sejak awal pandemi SARS pada bulan Maret tahun 2003 melaksanakan Penanggulangan SARS dengan tujuan mencegah terjadinya kesakitan dan kematian akibat SARS dan mencegah terjadinya penularan SARS di masyarakat (community transmission) di Indonesia. Langkah pertamanya adalah penetapan keputusan Menteri Kesehatan No. 424 Tahun 2003 tentang SARS. Dengan penetapan ini maka Undang-undang nomor empat tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dapat diterapkan dalam penanggulangan SARS. Diantaranya adalah…

1.       Public awareness à untuk memberi pengetahuan dan kewaspadaan tentang SARS kepada masyarakat luas termasuk kepada jajaran kesehatan, sektor di luar Departemen Kesehatan dan jajaran pemerintah daerah serta LSM, Ikatan Profesi dan lain-lain. Dalam hal ini dibentuk Tim Sosialisasi dan Advokasi untuk melakukan Advokasi dan sosialisasi melalui buku panduan, flyer, leaflet, poster, dan booklet.

2.       Mengaktifkan Kelompok Kerja Ditjen Pem-berantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Depkes dengan membuka Pos Koordinasi (Posko) SARS dan pelayanan “Hotline Services”

3.       Dilakukan pembagian Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card) kepada seluruh penumpang dari negara terjangkit SARS. Dengan per-timbangan intensitas arus penumpang dari dan ke luar negeri yang tinggi, maka pengamatan terhadap kemungkinan masuknya SARS difokuskan kepada 16 KKP di Indonesia yaitu : Medan, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, Batam, Tanjung Priok, Cengkareng, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, Banjarmasin, Pontianak, Tarakan . Pada kesempatan tersebut Departemen Kesehatan membagikan masker untuk digunakan para petugas kesehatan baik di rumah sakit maupun KKP, Poster SARS dan Buku Petunjuk Penanganan Infeksi SARS di Rumah Sakit.

4.       Terdapat 45 KKP yang mengawasi 155 bandara, pelabuhan laut dan pos lintas darat yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu ada 24 KKP yang mengawasi bandara/pelabuhan laut yang disinggahi alat angkut (peasawat udara dan kapal laut) yang datang dari negara terjangkit SARS. di Bandara Soekarno Hatta akan dipasang 6 set Thermal Scanners yaitu masing-masing 2 set di Terminal 3 (Khusus TKI), Terminal D Kedatangan, Terminal E Kedatangan. Sedangkan bantuan 4 set Thermal Scanners dari pemerintah Singapura masing-masing 2 set ditempatkan di Terminal D Kedatangan dan 2 set di Terminal E Kedatangan. Untuk petugas KKP telah dilakukan pelatihan petugas dan penyediaan barrier nursing protection.

5.       Menyiapkan Rumah Sakit yang dijadikan Rumah Sakit rujukan SARS. Ada 34 rumah sakti yang ditunjuk. Pemilihan rumah sakit tersebut berdasarkan kriteria yaitu berada di pintu masuk laut ataupun udara dari luar negri, seta merupakan wilayah TKI yang baru pulang dari luar negri. Dari 34 rumah sakit tersebut 6 rumah sakit ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan utama, yaitu RS H.Adam Malik Medan, RS Otorita Batam, RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSUD Dr. Sutomo Surabaya, RSUP Sanglah Denpasar dan RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tiap rumah sakit rujukan utama tersebut diberikan dana Rp. 100 juta rupiah untuk penyiapan ruang isolasi dan triase. Dalam ruang isoalsi minimal terdapat 2 tempat tidur (TT) untuk kasus probable dan 4 TT untuk kasus suspek. Selain itu diberikan alat-alat untuk proteksi perorangan dan alat-alat universal precaution dan peralatan medik. Untuk RS Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso sebagai RS Rujukan Nasional SARS disiapkan 20 TT bagi penderita dan 50 TT bagi perawatan pasca sembuh namun masih infeksius, 3 ambulans khusus SARS, peralatan medik dan alat proteksi perorangan. saat ini sedang dibuat EWORS ( Early Warning Outbreak Recognition System ) di 34 RS Rujukan untuk aspek hospotal base surveilans. Setiap RS rujukan dibentuk Tim Penanggulangan SARS di rumah sakit, pelatihan bagi perawat untuk pengetahuan tentang universal precaution, workshop dan pelatihan tentang Strict Barrier Hospital and Nursing Care dengan dana antara lain dari bantuan WHO sebesar Rp. 485.724.300,-.

6.       Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu respon awal untuk pemeriksaan laboratorium SARS dilakukan bekerja sama dengan US NAMRU-2 Jakarta dalam mengambil spesimen dari kasus suspek dan probable dan kemudian dikirim ke CDC Atlanta. Untuk mendukung ini Depkes telah menyusun pedoman untuk pengambilan dan pengiriman spesimen berdasarkan pada pedoman WHO dan CDC. Petugas laboratorium dari rumah-rumah sakit provinsi telah dilatih menggunakan pedoman tersebut.

7.       Pemerintah Indonesia mengeluarkan Travel Advisory, yaitu menganjurkan agar warga negara Indonesia yang akan berkunjung ke negara / wilayah terjangkit SARS menunda dulu. Namun apabila suatu sebab terpaksa harus berkunjung hendaknya memperhatikan :
(1) Tidak membawa orang lanjut usia atau anak balita
(2) Mempersiapkan diri dalam pencegahan SARS
(3) Memperhatikan petunjuk jajaran kesehatan setempat tentang pencegahan SARS.

Berkat kecekatan Depkes dan dibantu oleh rakyat Indonesia, Indonesia berhasil mencegah terjadinya penyebaran SARS. Selama ini kasus yang ditemukan di Indonesia antara lain 2 kasus probable dan 7 kasus suspect. Namun setelah hasil leb dikirimkan ke CDC, Atlanta, semuanya hasilnya negative. Namun, masyarakat Indonesia harus tetap waspada karena masih ada wilayah di luar Indonesia yang masih menunjukkan penularan secara local ke wilayah tersebut. Oleh karena itu pengamatan penyakit SARS melalui kegiatan surveilans SARS akan terus dipertahankan dan ditingkatkan misalnya pre departure screning tetap akan diberlakukan begitu pula Arrival Screening berupa pengisian Health Alert Card.

SOURCE:

–          Pedoman Tatalaksana Kasus SARS di Unit Pelayanan. DepKes. Revisi 1 April 2003

–          http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=43

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: