Mewabahnya Kembali Poliomyelitis

Sejak tahun 1995, Indonesia telah dinyatakan bebas polio. Selama 10 tahun ke depan setelah tahun 1995, tidak ditemukan kasus polio di Indonesia. Sampai pada April 2005 ditemukan kasus Polio di kampung Cidadap, Sukabumi. Satu kasus polio asli, sudah menjadi syarat Negara terjangkit penyakit polio. Beberapa minggu kemudian, ditemukan pula kasus polio pada seorang anak di RSCM, Jakarta yang domisili asalnya dari 1 desa yang sama dengan kasus pertama. Kasus polio di Indonesia terus bertambah. Enam lagi balita dipastikan menderita penyakit polio. WHO menyatakan, enam kasus baru polio itu juga ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat. “Tiga dari kasus baru tersebut berasal dari desa yang sama di Sukabumi, dan tiga lagi dari desa-desa tetangga,” demikian statemen WHO.

Wabah ini kemudian menyebar ke 10 propinsi Indonesia, terutama beberapa kabupaten di pulau Jawa dan Sumatra. Setidaknya 302 anak-anak yang belum pernah diimunisasi dibuat lumpuh oleh wabah ini. Polio tidak ada obatnya. Satu-satunya cara melindungi anak-anak adalah terus memberi mereka vaksin sekalipun virus tetap menyebar.

Hasil analisis genetika menunjukan bahwa virus polio yang di Sukabumi mirip dengan virus polio yang diisolasi di Sudan. Pada hasil analisis tersebut terdapat dua kemungkinan. Pertama adalah virus yang menyerang anak-anak di Sukabumi merupakan virus polio impor yang tadinya tidak pernah ada di Indonesia. Kedua, virus tersbut merupakan virus asli Indonesia yang kebetulan sama dengan virus di Sudan.

Belajar dari kejadian ini, kita harus selalu waspada dengan melakukan vaksinasi pada setiap balita tanpa pengecualian. Ini adalah tindakan yang mutlak dilakukan sampai polio benar-benar lenyap dari bumi ini, karena Polio merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dicegah dengan vaksinasi. Merupakan tindakan yang gegabah jika kita melalaikan program vaksinasi Polio karena dianggap virus polio liar tidak ada di Indonesia. Hal ini mengingat bahwa selama virus liar tidak punah dari seluruh pelosok bumi ini, akan selalu terbuka peluang masuknya virus polio liar dari luar, terutama dari wilayah endemik polio.

Oleh karena itu, negara-negara yang telah dinyatakan bebas polio sejak puluhan tahun yang lalu sekalipun tetap melaksanakan vaksinasi terhadap semua balitanya. Jepang seperti contoh, telah bebas polio sejak puluhan tahun yang lalu, namun sampai saat ini mereka tetap mewajibkan vaksinasi polio untuk setiap bayi yang lahir. Begitu juga dengan negara maju lainnya, yang konsisten menjalankan program imunisasi.

Pada tahun 1998, WHO mengeluarkan program Eradikasi Polio Global yang bertujuan untuk mencegah transmisi poliovirus di seluruh dunia. Program ini berupa imunisasi polio yang wajib dilakukan 4 kali, yaitu saat bayi lahir (Polio-), usia 3 bln (Polio-1), usia 4 bln (Polio-2) dan usia 5 bln (Polio-3). Dengan lengkap 4 kali dimaksudkan bayi dapat menyusun antibodinya dengan maksimal, untuk suatu proteksi 5-10 thn. WHO mentargetkan sampai 2005 dunia sudah bebas dari polio, namun kenyataannya sampai saat ini masih ada negara yang endemik polio seperti India, Pakistan, Afganistan dan negara di Afrika seperti Nigeria dan Niger. Ditambah lagi dengan munculnya kasus di negara yang tadinya telah dinyatakan bebas polio, termasuk Indonesia.

Mengapa muncul wabah Polio lagi di Indonesia?

Pertanyaan ini pasti yang ditunggu-tunggu setelah membaca fakta-fakta di atas. Ya, Indonesia terulang lagi muncul wabah polio dimungkinkan karena masih banyak anak-anak yang belum tercover imunisasi polio. Angka rata-rata dari cakupan imunisasi rutin di Indonesia adalah 70 persen, yang mengakibatkan sejumlah besar anak-anak tidak terlindungi dari penyakit ini. Pada kenyataannya, angka cakupan imunisasi rutin terus menurun secara perlahan tapi pasti, selama beberapa tahun terakhir. Terdapat beberapa daerah di tanah air yang angka imunitasnya bahkan lebih rendah lagi, yakni masyarakat yang paling miskin dan terpinggirkan. Karena penyakit polio kebanyakan tidak menunjukkan gejala-gejala apapun, sangatlah mudah bagi penyakit tersebut untuk beredar dari satu tempat ke tempat lainnya secara diam-diam melalui tubuh para penderitanya yang tidak menyadari jika dirinya telah terjangkit.

Selain itu, system surveilance di Indonesia yang tidak akurat. Banyak para birokrat yang memalsukan laporan surveillance di daerahnya, termasuk laporan cakupan imunisasi polio. Dikatakan di laporan semua anak-anak telah mendapatkan vaksin, padahal kenyataannya belum . Yang sangat memprihatinkan adalah ada beberapa pimpinan puskesmas yang dengan berat hati harus menandatangani laporan yang ABS (Asal Bapak/Ibu Puas) agar target imunisasi di daerahnya dalam target yang sudah tercapai, padahal kenyataannya belum mencakup semua anak di daerahnya.

Masalah lain yang menjadi kendala adalah terjadinya mutasi dan rekombinasi (penyilangan gen) pada vaksin polio, khususnya OPV. Hal ini disebabkan karena OPV adalah virus hidup yang bisa melakukan mutasi dan rekombinasi. Dengan mutasi dan rekombinasi ini virus berpeluang untuk kembali menjadi virus liar yang ganas. Sementara OPV adalah vaksin yang umumnya digunakan dalam program pemusnahan polio global. Karena virus polio terdiri dari 3 serotipe (serotipe 1, 2, dan 3), OPV yang digunakan juga merupakan campuran dari tiga serotipe ini. Dan kebanyakan rekombinasi yang terjadi pada virus vaksin adalah rekombinasi ketiga serotipe ini. Hasil rekombinasi seperti ini tidak terlalu berbahaya dan sampai saat ini terbukti bahwa hasil rekombinasi ini belum pernah menyebabkan terjadinya wabah polio di manapun.
Rekombinasi yang berbahaya adalah rekombinasi antara virus vaksin polio dengan virus lain. Baru-baru ini ada wabah polio yang disebabkan oleh virus yang berasal dari vaksin yang telah berekombinasi dengan virus lain. Pada 2000-2001 terjadi wabah di kepulauan Hispaniola. Pada tahun 2001, juga terjadi wabah yang sama di Filipina. Setahun berikutnya juga terjadi di Madagaskar. Dari hasil analisis ditemukan bahwa virus ini adalah virus vaksin yang telah berekombinasi dengan virus lain. Namun perlu dicatat bahwa gejala polio hanya terjadi pada balita yang tidak diimunisasi atau riwayat imunisasinya tidak jelas.

Solusinya?
Kesempurnaan program imunisasi seperti yang dijelaskan di atas, OPV berpeluang menyebabkan gejala polio (VAPP) dan bahkan bisa berekombinasi menjadi virus yang berbahaya. Namun perlu dicatat bahwa gejala polio hanya terjadi pada balita yang tidak diimunisasi atau riwayat imunisasinya tidak jelas. Hal ini menunjukan bahwa vaksinasi atau imunisasi merupakan hal yang mutlak dilakukan. Oleh karena itu, negara-negara yang telah mendeklarasikan bebas polio sekalipun masih tetap melaksanakan program imunisasi, terutama imunisasi rutin terhadap setiap anak yang lahir. Begitu juga dengan Indonesia, kita harus melakukan program imunisasi yang rapi sehingga menutup kemungkinan terjadinya wabah polio, baik yang disebabkan oleh virus impor maupun dari virus vaksin yang berubah (vaccine-derived poliovirus).

Musnahnya virus polio liar di beberapa belahan bumi ini dengan penggunaan OPV telah membuktikan keunggulan OPV untuk program eradikasi polio. Namun, OPV yang telah masuk ke tubuh anak dapat dikeluarkan melalui fesenya, dan kemungkinan dapat menularkan ke anggota keluarga lain walaupun kemungkinannya sangat kecil. Oleh karena itu, selain vaksinasi anak balita, vaksinasi orang tua dan semua anggota keluarga juga dianjurkan. Ini adalah jalan yang termudah yang bisa dilakukan oleh pribadi atau masyarakat.

Strategi penggunaan vaksin yang harus dipikirkan pemerintah adalah penggunaan OPV atau IPV atau campuran OPV dan IPV. Dimasa non-eradikasi, penggunaan OPV mungkin paling tepat. Tetapi, di masa eradikasi atau pra-eradikasi, penggantian OPV dengan IPV sudah harus dipikirkan. Dengan menggunakan OPV, virus polio tidak akan musnah, karena OPV adalah virus hidup. Walau bagaimanapun kemungkinan untuk bermutasi dan berekombinasi tetap ada. Otomatis kemungkinan untuk menjadi penyebab out-break juga tidak bisa diabaikan.

Di negara-negara yang sudah memasuki masa eradikasi polio, pemerintah sudah memikirkan dan memutuskan untuk mengganti OPV dengan IPV. Di Jepang sendiri sudah akan memasuki masa penggantian OPV dengan IPV. Institut Polio (Polio Institute) yang ditunjuk pemerintah Jepang untuk memproduksi vaksin polio yang disuplai di Jepang, sudah masuk ke tahap pengetesan produksi IPV yang aman. Oleh karena itu, barangkali sudah waktunya pemerintah kita untuk memikirkan penggunaan IPV sebagai pengganti OPV. Penggantian tersebut tidak harus sekaligus, tapi bisa dilakukan secara berangsur-angsur.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat untuk mengerti betapa pentingnya imunisasi, sehingga program WHO untuk menciptakan dunia yang bebas polio bisa terwujud. Amin.

 

SOURCES :

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=197350&kat_id=16

http:/ /www.who.com.poliomyelitis

http://www.kamusilmiah.com/kesehatan/rekombinasi-virus-polio-dan-hubungannya-dengan-program-eradikasi-polio/

 

4 Comments (+add yours?)

  1. atria abirama
    Nov 18, 2010 @ 23:11:30

    Banyak kasus polio yg terjadi karena tidak dilakukan imunisasi, karena ibunya merasa anaknya sehat, dan khawatir kalo diimunisasi malah menjadi sakit, bagaimana caranya memberika edukasi pada ibu2 yg bersikap seperti ini????

    Reply

  2. annisatridamayanti
    Nov 19, 2010 @ 13:06:18

    dear mas Atria Abirama🙂
    Iya, memang benar ada beberapa ibu yang menolak anaknya untuk divaksin. karena merasa anaknya tidak sakit atau karena takut anaknya malah jadi sakit. Inilah yang terjadi di Sukabumi, satu anak yang tidak diimunisasi polio, tapi ia adalah carrier (pembawa) virus polio, dapat menginfeksi seluruh anak lain yang berada di lingkungannya yang tidak mendapatkan imunisasi polio. akhirnya polio menjadi wabah di daerahnya.
    Menurut saya, pemerintah daerah sebaiknya mengadakan edukasi-edukasi. edukasi tidak harus dalam bentuk penyuluhan, tapi bisa dalam bentuk iklan di majalah,puskesmas ataupun mengajak secara langsung pada arisan,ato acara-acara tertentu. Edukasi tentang imunisasi polio dijelaskan tentang keamanan vaksin polio yang telah mendapat sertifikat keamanan dan mutu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) sehingga aman diberikan pada semua balita, bahkan balita yang sedang menderita diare atau demam juga keamanannya masih terjamin (menurut Yusharmen, Direktur Surveilans Epidemiologi Imunisasi Depkes dalam Liputan6.com). Selain itu,diedukasikan pula ke ibu-ibu apabila menolak anaknya untuk diimunisasi itu berarti akan membahayakan ibu itu sendiri dan seluruh masyarakat di sekitarnya karena kalau anak tersebut terkena polio maka resikonya dapat menularkan ke orang lain ,bahkan bisa menyebabkan outbreak yang dapat merugikan orang banyak. Sekarang sudah ada UU No 4/1984 tentang Penanganan Wabah yang menyatakan bahwa akan ada hukuman bagi ibu yang menolak anaknya diimunisasi, yaitu akan dipenjara maksimal 1 tahun ( http://www.detiknews.com/read/2005/05/30/164421/371282/10/tolak-imunisasi-polio-dipenjara-satu-tahun ) . Jadi mungkin edukasi dapat lebih diperluas lagi..kita sebagai warga Indonesia juga sebaiknya membantu tugas DinKes mengayomi para ibu-ibu untuk mengajak anaknya supaya diberi imunisasi sesuai jadwal, tidak hanya imunisasi polio namun juga imunisasi wajib lainnya.

    Reply

  3. Rian
    Dec 04, 2010 @ 13:13:35

    thanks infonya
    smoga wabah ga terulang lagi.. amin

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: