Jangan Lupakan Resiko PTSD pada Korban Bencana

Bencana alam tak hanya menyebabkan kerugian secara material. Pikiran, emosi, dan jiwa para korban pun terguncang karena trauma yang masih tertanam. Tidak sedikit pengungsi yang mengalami stress dan kecemasan yang berlebihan. Orang yang mengalami peristiwa yang luar biasa dalam dirinya kadang mengalami suatu kumpulan gejala berat yang berkaitan dengan kecemasan, kompleksitas gangguan kecemasan ini dikenal sebagai gangguan stres pasca-traumatik (Post Traumatic Stress Disorder / PTSD)

PTSD merupakan sindrom kecemasan, labilitas otonomik, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih itu setelah stress fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa yang terjadi lebih dari 30 hari.

Gangguan stres paca-traumatik dapat terjadi dengan segera, hal ini dapat dilihat langsung pada bencana alam, pengalaman seseorang terhadap reaksi dari trauma tersebut merespon kejadian yang baru dialaminya diluar kontrol dirinya, menangis, hilang ingatan sesaat, menjerit-jerit, histeria dan sebagainya. Gangguan stres paca-traumatik juga dapat disebabkan oleh stres ringan yang pada awalnya akan tetapi berlangsung secara kontinyu, stres tersebut berlangsung sampai berminggu-minggu, bulan dan bahkan tahunan.

Tiga tipe gejala yang sering terjadi pada PTSD adalah

Pertama, Reexperiencing. Perderita seperti mengalami kembali kejadian traumatis yang pernah dialami. Biasanya kondisi ini akan muncul ketika penderita sedang melamun atau melihat suasana yang mirip dengan pengalaman traumatisnya. Penderita dapat berperilaku mengejutkan, tiba-tiba berteriak, menangis, atau berlari ketakutan. Fenomena lain juga dapat muncul seperti takut untuk tidur, karena begitu ia tidur peristiwa traumatis muncul kembali. Misalnya, peristiwa diperkosa atau pembunuhan yang berlangsung didepan mata.

Kedua, Hyperarousal. Suatu keadaan waspada berlebihan, seperti mudah kaget, tegang, curiga menghadapi gejala sesuatu, benda yang jatuh dia anggap seperti jatuhnya sebuah bom, dan tidur sering terbangun-bangun.

Ketiga, Avoidance. Seseorang akan selalu menghindari situasi yang mengingatkan ia pada kejadian traumatis. Seandainya kejadiannya saat suasana ramai, dia akan menghindari mall atau pasar. Begitu juga sebaliknya jika ia mengalami pada waktu sendiri, maka ia akan menghidari tempat-tempat sepi.

Kadangkala gejala tidak dimulai sampai berbulan-bulan atau bahkan tahunan setelah peristiwa traumatik terjadi. Jika gangguan stress pascatrauma telah ada selama 3 bulan atau lebih, hal ini dianggap kronis. Jika PSTD tidak ditanganidengan benar, maka mempengaruhi kepribadian seseorang (perubahan kepribadian).

Umumnya gangguan kepribadian yang terjadi adalah panic attack. Panic attack ditunjukkan dengan perilaku menghindar, depresi, membunuh pikiran dan perasaan, merasa disisihkan dan sendiri, merasa tidak percaya dan dikhianati, mudah marah, dan gangguan yang berarti dalam kehidupan sehari –hari. Perilaku-perilaku seperti ini dapat mencetuskan keputusasaan yang dapat berakhir dengan keinginan untuk bunuh diri.

Selain itu, PTSD bisa menyebabkan kesehatan yang buruk melalui interaksi yang rumit antara mekanisme biologi dan psikologi yang menybabkan ketidakseimbangnya hormone-hormon dalam tubuh. Pemikiran saat ini adalah bahwa pengalaman trauma membawa perubahan neurochemical di otak. Perubahan tersebut bisa mempunyai efek biologi pada kesehatan, seperti:

  • Rentan terhadap hipertensi dan atherosclerotic heart disease
  • Tyroid yang tidak normal dan fungsi hormon lainnya
  • Kecurigaan yang meningkat akan infeksi dan gangguan sistem kekebalan tubuh
  • Permasalahan dengan persepsi rasa sakit, toleransi sakit, dan sindrom sakit kronis
  • perubahan neurochemical yang berhubungan dengan ekspos trauma

Ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan penderita PTSD, yaitu dengan menggunakan farmakoterapi dan psikoterapi. Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat hanya dalam hal kelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal.

Pengobatan secara farmakologis dapat diberikan obat antidepresan, antipsikosis, ataupun alpha adrenergic blockers. Namun perngobatan farmakoterapi ini hanya mengurangi gejala-gejalanya pada saat korban meminum obat ini. Apabila tidak minum, maka gejala-gejala ini akan timbul lagi. Padahal pasien PTSD ini dapat mengalami stress dan traumanya sampai seumur hidup apabila tidak ditangani dengan baik.

Pengobatan yang lebih dianjurkan adalah pengobatan psikoterapi. Ada tiga tipe psikoterapi yang dapat digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, yaitu: anxiety management, cognitive therapy, exposure therapy .

Pada anxiety management, terapis akan mengajarkan beberapa ketrampilan untuk membantu mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik melalui: 1) relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot -otot utama, 2) breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan -lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa-gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala, 3) positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi hal-hal yang membuat stress (stresor), 4) asser-tiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain, 5) thought stopping, yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress.

Dalam cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan -kegiatan kita. Misalnya seorang korban kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak hati -hati. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang.

Sementara itu, dalam exposure therapy para terapis membantu meng-hadapi situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam ke -hidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misal: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya. Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi.

Di samping itu, didapatkan pula terapi bermain (play therapy) yang sangat berguna pada penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nyaman dalam berproses dengan pengalaman traumatiknya.

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Nandang Rusmana, terapi permainan tradisional yang dikembanghkan teruji secara signifikan dapat menurunkan kecemasan anak dengan korban bencana gempa yang mengalami PTSD di Tasikmalaya. Ini berarti dapat direkomendasikan dan dimplementasikan lebih lanjut, melihat bahwa anak-anak sangat rentan mengalami PTSD yang dapat memberikan dampak buruk ke depannya.

Dalam siklus manajemen bencana yang telah saya jelaskan pada posting sebelumnya, pemulihan stress dan trauma merupakan salah satu bentuk manajemen pasca bencana yang perannya cukup penting dalam siklus manajemen bencana. Hal ini yang terkadang terlupakan pada manajemen pasca bencana. Untuk itu, sebaiknya mulai dari sekarang kita membantu korban bencana tidak hanya membantu dengan logistic namun juga mensupport dan memberikan mereka psikoterapi untuk mengurangi resiko PTSD pada korban bencana.

SOURCE :

Kaplan.1997. Synopsis of Psychiatry ,9 ed.

Wardhani, Yurika et Lestari, Wenny. Gangguan Stress Pasca Trauma pada Korban Pelecehan Seksual dan Perkosaan.

http://medicastore.com/penyakit_subkategori/5/index.html

5 Comments (+add yours?)

  1. hanggahari
    Nov 26, 2010 @ 03:25:46

    Nice!
    l.o. tutorial terpenuhi nih hehe

    Reply

  2. Rian
    Dec 04, 2010 @ 13:22:28

    thanks mbak…

    Reply

  3. yurika & weni
    Nov 08, 2011 @ 03:08:14

    terimakasih tulisan kami sudah dimanfaatkan untuk referensi. sayangnya kenapa tidak ditulis lengkap, dimana artikel itu berada. maksudnya diambil dari sumber mana artikel tersebut. agar penulis lain bisa mencari sumbernya. karena tulisan kami kan berupa artikel yang termuat di majalah ilmiah. terimakasih. salam sehat. – yurika & weni –

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: