Identifikasi Korban Paling Akurat

Sejauh ini terdapat sembilan metode untuk mengidentifikasi jenazah. Mulai dari melihat bentuk tubuh korban atau tersangka yang belum rusak (visual), memeriksa dokumen identitas diri, sampai mengenali pakaian dan perhiasannya. Identifikasi jenazah juga bisa dilakukan dengan pemeriksaan medis dari bagian tubuh seperti tulang dan uji serologi untuk mengetahui golongan darah.

Setiap cara identifikasi memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Sebagai contoh, pemeriksaan ciri-ciri gigi terkadang sulit dilakukan karena tidak setiap orang punya catatan gigi sehingga tidak mempunyai data antemortem yang kuat. Apalagi orang Indonesia jarang ke dokter gigi. Data rekam medis gigi pun jarang ada. Sedangkan uji sidik jari merupakan metode relatif murah, mudah, dan cepat. Caranya, membandingkan sidik jari korban dengan sidik jari sebelumnya seperti pada paspor atau data lainnya. Ketepatannya tinggi karena memiliki variasi besar dengan perhitungan satu berbanding lima miliar. Kelemahannya, sidik jari gampang hilang atau hancur karena ada di bagian luar tubuh. Kalau jarinya tidak utuh, akurasi juga berkurang.

Hingga kini metode pemeriksaan DNA adalah cara identifikasi yang paling tajam dibandingkan metode identifikasi jenazah lainnya dengan tingkat akurasi mendekati seratus persen. Hasilnya juga stabil dan bisa menggunakan semua bagian tubuh korban. Pemeriksaan DNA bisa diambil dari sampel mana pun, yang penting sel itu memiliki inti sel. Yang paling banyak digunakan memang biasanya darah, namun bisa juga dari cairan sperma, tulang, rambut, ludah, urin, maupun kotoran manusia. Tentunya pemeriksaan DNA ini harus ada sampel pembanding, yakni dari keluarga korban, terutama orangtuanya. Pemeriksaan DNA juga hanya perlu waktu paling lama dua hari, bahkan Taiwan memiliki peralatan canggih yang dapat memeriksa DNA dalam 4,5 jam. Kendala yang ada lebih keterbatasannya ahli DNA forensik yang memiliki kemampuan menganalisis hasil pemeriksaan DNA korban atau tersangka serta tingginya biaya pemeriksaan.

Definisi DNA

Asam deoksi-ribonukleat ( Deoxyribonucleic Acid = DNA ) adalah suatu senyawa  kimiawi yang membentuk   “ kromosom “. Bagian dari suatu kromosom yang mendikte suatu sifat khusus disebut “gen“. Struktur DNA adalah “untaian ganda” (double helix), yaitu dua untai bahan genetik yang membentuk spiral satu sama lain.

Setiap untaian terdiri dari satu deretan basa ( juga disebut nukleotida ). Basa dimaksud adalah salah satu dari keempat senyawa kimiawi berikut : Adenin, Guanin, Cytosine dan thymine. Kedua untai DNA berhubungan pada setiap basa. Setiap basa hanya akan berikatan  dengan satu basa lainnya,  dengan aturan sebagai berikut  :  Adenin (A) hanya akan berikatan dengan thymine (T), dan  guanine (G) hanya   akan berikatan dengan Cytosine (C) .

Contoh dari satu untaian DNA terlihat seperti ini :

A – A – C – T – G – A – T – A – G – G – T – C – T – A – G

Untaian  DNA yang dapat terikat pada untaian DNA di atas adalah

T – T – G – A – C – T – A – T – C – C – A – G – A – T – C

dan gabungan dari keduanya menjadi :

A – A – C – T – G – A – T – A – G – G – T – C – T – A – G

T – T – G – A – C – T – A – T – C – C – A – G – A – T – C

Untaian DNA dibaca dari arah yang khusus, dari puncak atas  (disebut 5’ atau ujung “ lima utama “) atau dari dasar (disebut  ujung  3’ atau ujung “ tiga utama). Pada suatu untaian ganda, untaian diurut dari arah yang berlawanan :

5’ A – A – C – T – G – A – T – A – G – G – T – C – T – A – G  3’

3’ T – T – G – A – C – T – A – T – C – C – A – G – A – T – C   5’

Struktur kimia dari DNA adalah sebagai berikut :

Struktur kimiawi DNA dari setiap orang adalah sama, yang berbeda hanyalah urutan/susunan dari  pasangan basa yang membentuk DNA tersebut. Ada jutaan pasangan basa yang terkandung dalam DNA setiap orang, dimana urutan/susunan basa-basa tersebut berbeda untuk setiap orang. Berdasarkan perbedaan urutan/susunan basa-basa dalam DNA tersebut, setiap orang dapat  diidentifikasi. Namun demikian, karena ada  jutaan pasangan basa, pekerjaan tersebut akan membutuhkan waktu yang lama. Sebagai penggantinya, para ahli dapat menggunakan metode yang lebih pendek, yaitu berdasarkan adanya pola pengulangan urutan/deretan basa dalam DNA setiap orang.

Namun demikian, pola ini tidak dapat memberikan suatu “ sidik jari “ secara individu, tetapi  dapat digunakan untuk menentukan apakah dua contoh DNA yang dianalisis berasal dari orang yang sama, atau orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga satu satu sama lain, atau mereka sama sekali tidak mempunyai  hubungan keluarga. Para ahli menggunakan sejumlah kecil  deretan DNA yang diketahui  bervariasi  di antara sekian banyak individu, dan menganalisisnya untuk memperoleh tingkat kemungkinan kecocokan tertentu.

Cara Melakukan Pemetaan Sidik Jari DNA

“ Southern Blot “ adalah salah satu cara untuk menganalisis pola-pola genetik yang muncul dalam DNA  seseorang. Tahapan-tahapan   pekerjaan  “ Southern   Blot “, meliputi :

(1).  Isolasi DNA, yang dipermasalahkan yang berasal dari sisa-sisa  bahan sel di dalam  inti sel. Pekerjaan ini  dapat  dilakukan secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan detergent khusus untuk mencuci bahan ekstra dari DNA, atau secara mekanis, dengan menerapkan tekanan tinggi  untuk melepaskan DNA dari bahan-bahan sel lainnya.

(2).   Pemotongan DNA menjadi  beberapa potongan dengan ukuran yang berbeda. Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan satu atau lebih “enzim pemotong “ (restriction enzymes ).

(3).  Penyortiran potongan DNA berdasarkan ukurannnya. Suatu proses dimana dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran atau “fraksinasi ukuran“ dengan menggunakan cara yang disebut  “elektroforesis gel “ (gel electrophoresis ). DNA   dimasukkan ke dalam gel ( seperti agarose ), dan muatan listrik diterapkan pada gel tersebut, dengan muatan positif pada dasar wadah gel, dan muatan negatif  pada puncak wadah.  Karena  DNA bermuatan negatif,  maka potongan DNA akan tertarik ke arah dasar gel. Namun demikian,  potongan-potongan kecil dari DNA akan dapat bergerak lebih cepat, dan karenanya berada lebih jauh dari   dasar dibandingkan dengan potongan-potongan yang lebih besar. Berdasarkan prinsip di atas, potongan DNA dengan ukuran yang berbeda  akan  terpisah, potongan yang lebih kecil lebih dekat  ke dasar, dan potongan yang lebih besar lebih dekat ke puncak.

(4).  Denaturasi DNA, agar semua DNA berubah menjadi untai tunggal. Hal ini dapat dilakukan  dengan  cara  pemanasan atau dengan perlakukan kimiawi terhadap DNA yang terdapat di dalam gel (lihat poin 4 ).

(5).   Blotting DNA. Gel dengan DNA yang sudah terfraksinasi berdasarkan ukurannya diterapkan pada lembaran kertas nitrosellulosa sehingga DNA tersebut  dapat melekat secara tetap pada lembaran tersebut.  Lembaran ini disebut  “ Southern blot “. Sekarang “ southern blot “ sudah siap dianalisis. Untuk menganalisis suatu “ southern blot “ digunakan suatu “ probe “ genetik radioaktif yang akan melakukan reaksi hibridisasi dengan DNA yang dipertanyakan.  Jika suatu sinar-X dikenakan pada “ southern blot ” setelah   “ probe-radioaktif “ dibiarkan berikatan dengan DNA yang  telah  terdenaturasi pada kertas, hanya area dimana “ probe  radioaktif “ berikatan yang terlihat pada film. Keadaan ini yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi DNA seseorang dari kejadian dan frekwensi pemunculan pola genetic khusus yang terkandung pada probe.

Apa itu  VNTRs

Setiap untaian DNA mempunyai bagian yang membawa informasi genetic yang menginformasikan pertumbuhan suatu organisme, bagian ini disebut  “ exons “, dan bagian yang  tidak membawa  informasi  genetik, yang disebut  “ introns “.  Namun demikian, introns bukanlah sesuatu yang tidak berguna, telah   ditemukan bahwa introns  mengandung ” deretan pasangan basa terulang “. Deretan ini disebut  “ Variable Number Tandem Repeats “ ( VNTRs )yang dapat tersusun dari dua-puluh hingga seratus pasangan basa.

Setiap manusia mempunyai beberapa VNTRs. Untuk menentukan apakah seseorang mempunyai VNTR khusus, dibuat suatu  “ southern blot “, kemudian southern blot tersebut   di-probe-kan, selanjutnya  melalui reaksi hibridisasi dengan suatu versi radioaktif dari VNTR yang dipertanyakan. Pola yang dihasilkan dari proses  ini dianggap sebagai sidik jari DNA. VNTRs seseorang berasal dari informasi genetik yang diwariskan oleh kedua orang tuanya ( ibu dan bapak ). Dia dapat memiliki VNTRs yang diwariskan dari bapaknya atau  dari ibunya, atau kombinasi dari keduanya, tetapi  mustahil tidak ada dari keduanya.

Penggunaan Praktis dari Pencetakan Sidik Jari DNA (Suatu Tinjauan  Aksiologi)

  • Penentuan  ke-bapak-an dan ke-ibu-an ( Paternity and Maternity )  : karena seseorang mewarisi VNTRS dari orang tuanya, maka pola VNTRs dapat digunakan untuk menentukan ke-bapak-an dan ke-ibu-an.  Begitu khas-nya pola VNTR tersebut, sehingga pola VNTR yang diwarisi dari orang tua hanya dapat direkontruksi  jika pola VNTR dari  si anak diketahui  ( lebih banyak anak yang diuji, maka rekonstruksi akan lebih benar ). Analisis pola VNTR dari orang tua-anak   telah   digunakan   sebagai   standar   penyelesaian   kasus identifikasi ayah, demikian pula untuk kasus-kasus yang lebih kompleks, seperti penegasan kewarganegaraan, dalam hal adopsi, kedudukan sebagai orang tua kandung. Pada tahun 1988, Kantor Keimmigrasian Inggeris ( United Kingdom Home Office and Foreign Commonwealth ) meratifikasi  penggunaan pencetakan sidik jari DNA untuk pemecahan perdebatan keimmigrasian yang bergantung  pada hubungan keluarga.
  • Identifikasi  Penjahat dan Forensik : DNA yang diisolasi dari darah, air mani (semen), rambut, sel-sel kulit,   atau barang bukti  genetik  lainnya yang ditemukan di tempat kejadian perkara dapat dibandingkan   (melalui pola VNTR) dengan DNA dari tersangka pelaku kejahatan, untuk menentukan bersalah atau  tidaknya si tersangka tersebut. Pola VNTR juga berguna dalam menetapkan identitas dari korban pembunuhan, juga dari DNA yang ditemukan sebagai barang bukti atau dari mayat itu sendiri.  Banyaknya penerapan dari pencetakan sidik jari DNA dalam bidang ini telah menjadikan metode pembuktian ini sebagai metode yang tak terhingga nilainya di dalam lapangan forensik.
  • Identifikasi Perorangan : Gagasan untuk menggunakan  sidik jari DNA sebagai suatu jenis  “ bar-code ” genetik  untuk mengidentifikasi individu telah dibahas, tetapi hal ini kurang disukai. Teknologi yang dibutuhkan untuk mengisolasi, menyimpan di dalam file, kemudian menganalisis jutaan pola VNTR yang sangat khas merupakan hal yang mahal dan tidak praktis.
  • Bidang Kesehatan : Sidik jari DNA telah digunakan pada beberapa bidang penelitian perawatan kesehatan, demikian pula pada sistem peradilan. Sidik jari DNA digunakan untuk mendiagnosa penyakit keturunan, baik pada bayi-bayi yang belum lahir, maupun yang sudah lahir. Penyakit keturunan dimaksud,  meliputi   :   cystic fibrosis,hemophilia, Hutington’s  disease, familial  Alzheimer’s, sickle cell  anemia, dan banyak lagi  yang lain. Deteksi awal dari penyakit-penyakit  semacam ini memungkinkan dokter dan orang tua si anak untuk mempersiapkan diri terhadap pengobatan yang cocok untuk sang bayi. Pada beberapa  program, penasehat genetik menggunakan informasi sidik jari DNA untuk membantu calon orang tua untuk memahami resiko mempunyai  anak yang cacat. Sidik jari DNA juga penting dalam pengembangan metode pengobatan terhadap penyakit  keturunan. Program  penelitian   untuk  menemukan   gen-gen   penyebab penyakit keturunan sangat tergantung pada informasi yang tergantung pada informasi yang terkandung di dalam kenampakan (profile ) DNA.

Identifikasi dengan menggunakan metode DNA ini dinilai sangat akurat, namun untuk melakukan deteksi DNA ini dibutuhkan biaya sedikitnya Rp 2,5 juta. Padahal untuk menangani satu kasus, setidaknya dibutuhkan minimal tiga kali tes DNA. Tes itu dari keluarga yang dicurigai kerabat korban, bisa bapak, ibu, adik, atau kakak. Belum lagi apabila korban yang perlu diidentifikasi banyak.

Untuk itu, data pembanding baik gigi, sidik jari dan data-data yang lain sangatlah penting. Semakin banyak bukti, semakin kuat keakuratannya.

SUMBER :

1.       Refrat Identifikasi Forensik

2.       http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/40151



4 Comments (+add yours?)

  1. Tisya Ramli
    Dec 04, 2010 @ 12:44:36

    Blognya bagus..
    Thx yaa

    Reply

  2. Teguh
    Dec 04, 2010 @ 12:59:48

    kalo yg sering dipake apa?
    apakah metode dna selalu dipake dlm setiap identifikasi jenazah?

    Reply

    • annisatridamayanti
      Dec 05, 2010 @ 00:55:04

      hmmm…sebenarnya tergantung kondisi jenazahnya seperti apa..
      namun, metode primer yang digunakan adalah sidik jari, DNA, atau odontologi.. kalau sudah ditemukan positif pada salah satu dari ketiga data primer tersebut maka kemungkinan untuk mengidentifikasi sudah bisa, tapi kalau mau nambah data primer lain maka datanya akan semakin akurat.
      kalau kondisi jenazah sudah tidak ada kaki dan tangannya dan wajah sudah tak terbentuk karna ditenggelamkan (misalnya), maka identifikasi yang tepat adalah dengan metode DNA rambut korban, dan odontologi kalau memang diperlukan. kalau kondisi korban sudah terbakal total tinggal tulang belulang, maka identifikasi dengan odontologi.
      itu sebenarnya seni masing-masing dokter untuk memilih identifikasi yang menurut dia tepat..

      semoga berguna🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: